Search results for Bantul
Results 1-15 of about 79 (Found in 0.041s)

18,

02:59,

2008-04-02 20:14:45
Description: Sabtu, 17 Juni 2006, pukul 13.00 telah diadakan lomba antar TPA di Posko P2B DPD PKS Jakpus tepatnya di dusun Poyahan, Kelurahan Seloharjo, Kecataman Pundong, Kabuparen Bantul. Lomba-lomba tersebut di (More) Sabtu, 17 Juni 2006, pukul 13.00 telah diadakan lomba antar TPA di Posko P2B DPD PKS Jakpus tepatnya di dusun Poyahan, Kelurahan Seloharjo, Kecataman Pundong, Kabuparen Bantul. Lomba-lomba tersebut di (Less) Channel: youtube

38,

04:52,

2008-04-03 02:44:32
Description: Saya termasuk salah satu keluarga yg terkena gempa, karena saya memang berasal dari daerah Yogya, tepatnya Kab Bantul, dan persisnya Kecamatan Pleret, yg... disini adalah termasuk daerah terbanyak mem
Channel: youtube

30,

03:52,

2008-04-03 02:51:30
Description: Ada dua kalimat yang setiap saat saya dengar selama dua hari berada di Bantul itu, setelah mengucapkan, "Maturnuwun sanget (terima kasih sekali), " mereka meneruskannya dengan, "Saking (More) Ada dua kalimat yang setiap saat saya dengar selama dua hari berada di Bantul itu, setelah mengucapkan, "Maturnuwun sanget (terima kasih sekali), " mereka meneruskannya dengan, "Saking pundi tho jenen (Less) Channel: youtube

48,

03:29,

2008-04-03 02:51:30
Description: Pagi ini kedua adik saya berangkat ke Bantul dan Jalan Parangtritis untuk menjadi relawan korban bencana gempa Jogja (27 Mei 2006). Sore hari ini, adik saya yang perempuan sudah pulang dengan badan ba (More) Pagi ini kedua adik saya berangkat ke Bantul dan Jalan Parangtritis untuk menjadi relawan korban bencana gempa Jogja (27 Mei 2006). Sore hari ini, adik saya yang perempuan sudah pulang dengan badan ba (Less) Channel: youtube

2982,

02:27,

2007-03-09 23:57:42
Description: Transporter gaiacorps melaporkan, Jalan Imogiri Timur, Jalan Imogiri Barat, dan Jalan Parangtritis sepanjang pagi hingga menjelang malam ini mengalami kemacetan hingga sepanjang 3 kilometer. Kemacetan (More) Transporter gaiacorps melaporkan, Jalan Imogiri Timur, Jalan Imogiri Barat, dan Jalan Parangtritis sepanjang pagi hingga menjelang malam ini mengalami kemacetan hingga sepanjang 3 kilometer. Kemacetan diperkirakan terjadi karena meningkatnya jumlah wisatawan bencana pada akhir minggu ini, hari kedelapan pascabencana. Kebanyakan mereka melakukan perjalanan ke daerah-daerah bencana dan kamp-kamp pengungsian untuk memotret, atau sekadar melihat aktivitas pengungsi. Tetapi ada pula sejumlah keluarga yang berkeliling dengan mobil. Tidak sekadar untuk 'berwisata', tetapi juga membawa bantuan untuk disalurkan ke kamp-kamp pengungsian di sepanjang perjalanan. "Mereka datang sekeluarga, ngobrol-ngobrol, lalu membuka bagasi dan mengeluarkan sedikit bantuan yang mereka bawa," ujar salah seorang relawan gaiacorps. Menurut Aan, salah satu transporter yang menjadi saksi mata, jenis-jenis bantuan yang mereka bawa di antaranya adalah sembako, hygiene kit, nasi bungkus, atau snack. Semuanya dalam kemasan-kemasan kecil.
Bencana gempa yang menimpa Jogjakarta dan Jawa Tengah, 27 Mei 2006 yang lalu memang tak hanya mengundang keprihatinan massal, tetapi juga perhatian dan decak dari masyarakat, baik penduduk lokal Jogja maupun orang-orang dari luar daerah. Sejak hari kedua pascabencana, kepadatan jalan menuju daerah Bantul dan sekitarnya salah satunya disebabkan oleh mereka yang berdiri di tepi-tepi jalan, memadati situs-situs korban bencana, entah untuk sekadar menonton atau mengambil gambar. Beberapa situs yang mengundang perhatian media dan kalangan luas di antaranya adalah gedung STIE Kerjasama dan gedung BPKP di Jalan Parangtritis.
Maraknya wisata bencana juga ditandai dengan 'lenyapnya' kamera dari peredaran. Beberapa teman yang memiliki akses ke media rekam tersebut menyatakan sulitnya mendapatkan kamera Single Lens Reflect (SLR), dari jenis manual hingga digital, terutama pada akhir minggu ini. Demikian pula yang dialami oleh salah seorang teman fotografer amatir yang datang dari Jakarta. Sejak Sabtu hingga Senin mendatang, kedatangan fotografer-fotografer, baik profesional maupun amatir, dari luar daerah ke Jogjakarta, mencapai puncaknya. Mereka datang untuk merekam sisa-sisa bencana di tempat kejadian.
Wisata di kala pascabencana memang ekses yang, kendati ironis, tak dapat terhindarkan. Mobilisasi massa ke daerah bencana terjadi tak hanya karena padatnya arus bantuan, tetapi juga karena besarnya rasa ingin tahu. Masyarakat berlomba-lomba menjadi saksi mata peristiwa; berlomba-lomba mengabadikan situs yang terimbas bencana. Gambar dan rekaman peristiwa seolah barang langka layak koleksi yang mengundang decak kagum dan pantas dibanggakan. Barangkali pula, kelak sebagian dari mereka akan menghuni galeri dalam pameran-pameran foto tematis, menjadi mitos yang hidup dari mulut ke mulut. Menjadi bagian dari kenangan yang, meski menyakitkan, tetap saja mengundang decak kagum. Menjadi wacana yang dipolemikkan, lalu berhenti. Terlupakan. Beberapa dari mereka bisa jadi tak berhenti sampai di situ; gambar dan informasi yang mereka miliki mungkin turut mendatangkan sesuatu untuk mereka yang menjadi korban, yang hidupnya tak berhenti sampai di kamp pengungsian saja. Begitulah seharusnya.
Dalam perjalanan menuju Blali, Seloharjo, saya sempat bergumam dengan seorang teman saat melewati mereka: "Kalau saja mereka yang berdiri di tepi-tepi jalan nggak cuma nonton, tapi ikut melakukan sesuatu untuk para korban bencana." Teman saya menimpali, "Apalagi jumlah mereka banyak sekali. Kalau sekian banyak orang dikerahkan untuk jadi relawan yang mendampingi korban, bayangin."
Akhir minggu ini menjadi akhir minggu yang riuh-ramai di daerah Bantul dan sekitarnya. Sejumlah artis pun turut datang, entah apa pun maksud kedatangan mereka. Pengungsi dan korban bencana tentu ikut senang, karena kedatangan mereka membawa buah tangan. Tetapi jangan lupa berempati. Jangan hanya jadi penonton. Mereka tak suka ditonton. Tengoklah salah satu tulisan di tepi jalan:
"Tolong, desa xxx, 100 m (tanda panah) rusak parah. Kami butuh bantuan, bukan jadi tontonan!!!"
http://gaiacorps.blogspot.com (Less) Channel: youtube

253,

02:59,

2007-03-09 23:50:27
Description: Sabtu, 17 Juni 2006, pukul 13.00 telah diadakan lomba antar TPA di Posko P2B DPD PKS Jakpus tepatnya di dusun Poyahan, Kelurahan Seloharjo, Kecataman Pundong, Kabuparen Bantul. Lomba-lomba tersebut (More) Sabtu, 17 Juni 2006, pukul 13.00 telah diadakan lomba antar TPA di Posko P2B DPD PKS Jakpus tepatnya di dusun Poyahan, Kelurahan Seloharjo, Kecataman Pundong, Kabuparen Bantul. Lomba-lomba tersebut dihadiri oleh hampir 300 an murid-murid TPA se-Seloharjo yang terdiri dari 17 Dusun. Aneka lomba yang dipertandingkan diantaranya, Lomba Mewarnai, Cerdas cernat Al Quran, Hafalan Surat & doa-doa pendek, Menulis Surat Untuk Presiden, Perlombaan Outbound for Kids yang meliputi :Estafet Kelereng, Menara Air, Tarik Tambang, Memecahkan Balon dengan paku, Memasukkan pensil kedalam Botol. Perlombaan tsb berlangsung dengan meriah.Berikut surat-surat dari anak-anak korban gempa di Yogya yang ditujukan pada Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.
Juara I, Lomba Menulis Surat Untuk Presiden
Kepada Yth,
Presidenku tercinta
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Sebelumnya mohon maaf ya pak, nama saya Apri Lisa Puspa Wulan Dhari, saya siswa SD Muhamadiyah Kali Pakem II Kelas 5, Alamat Yogyakarta Bagian Selatan Kota Bantul, tepatnya di Kecamatan Pundong.
Saya senang sekali pak, tinggal di Desa, walaupun agak panas, karena dekat pantai, tidak apa-apa, karena sawah-sawah & pohon-pohon hijau membuat desa kami terasa nyaman.
Setiap hari saya berangkat sekolah naik sepeda bersama teman-teman. Kalau pagi saya jalan-jalan bersama teman-teman menyusuri jalan dari tepi desa. Saya bisa melihat sungai opak yang memanjang dan kalau udara bersih kami bisa melihat gunug merapi dari jauh, Indah sekali Pak.
27 Mei 2006 sesudah sholat subuh saya mempersiapkan alat-alat untuk sekolah. Habis mandi saya bersiap-siap untuk berangkat sekolah, ibu bilang...Lis Sarapan dulu Nak !
Sudah hampir jam 6, tiba-tiba saya sudah tidak tahu lagi Pak, apa yang terjadi, saya terjatuh dilantai, saya berusaha berdiri tapi tidak bisa. Dengan sekuat tenaga saya merangkak keluar. Sayup-sayup Ibu memanggil-manggil saya, ternyata semua sudah ada di luar, Ayah dan Ibu menarik tangan saya keluar, Kami bertiga sujud syukur, karena kami semua selamat. Tapi rumah saya hancur Pak, rumah satu desa juga semuanya rusak. Sedih rasanya Pak. Rumah di dusun lain juga sama.
Sekarang apa yang akan terjadi dengan saya nanti Pak. Sekolah saya, cita-cita saya semuanya. Semuanya Pak....seraragam saya, alat tulis saya, sepeda saya....semua hilang. Saya menulis surat ini sambil menangis. Saya diberi kesempatan untuk menulis surat ini kepada Bapak. Hanya Bapak yang bisa mendengar penderitaan kami..
Tolong Saya pak...!! Bantu saya mewujudkan cita-cita saya, Hanya Bapak yang bisa mendengar jeritan saya, jeritan kota Bantul, Jeritan Indonesia....
Terima Kasih ya Pak...semoga Bapak selalu dilindungi oleh Allah SWT...
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
dari Saya : Apri Lisa Puspa Wulan, dari Ngentak
Juara II, Lomba Menulis Surat Untuk Presiden
Kepada Yth.
Bapak Presiden SBY di tempat
Dengan Hormat,
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Dengan datang surat ini, saya berharap tidak mengganggu kegiatan Bapak SBY dan semoga Bapak SBY sudi meluangkan waktunya untuk membaca surat saya.
Pertamat-tama perkenalkan nama saya Alfrida Lupy Fahmi, kelas 6 SD Muhamadiyyah Kali Pakem I, Alamat Dusun Biro, Seloharjo, Kec. Pundong, Kab, Bantul, Yogyakarta. Disini saya ingin mengatakan keadaan desa saya yang terkena pasca gempa. Gempa 27 mei kemarin telah membuat rumah-rumah termasuk rumah saya roboh, sehingga kami harus tinggal di tenda-tenda, oleh karena itu saya mohon Bapak SBY mau memberikan bantuan kepada kami, karena kami masih membutuhkan bantuan dan relawan untuk merobohkan rumah-rumah kami yang masih retak dan doyong. Mudah-mudahan bapak SBY mau mengabulkan permintaan saya, atas perhatian Bapak saya ucakpan banyak terima kasih.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Hormat Saya : Fahmi, TPA Mistoqul Ulum Biro
Juara III, Lomba Menulis Surat Untuk Presiden
Kepada Yth
Bapak Presiden SBY
Dengan Hormat
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Apa Kabar Bapak Presiden? Semoga sehat dilindungi oleh Allah SWT.
Saya akan menceritakan tentang gempa bumi di jogja.
Pada saat itu hari Sabtu, tanggal 27 Mei 2006, kami berlari kegunung karena ada isu Tsunami. Rumah-rumah roboh dan Hancur. Dan banyak yang mengalami luka-luka berat. Sekolah-sekolahan rusak, roboh dan hancur. Dan kami makan dengan garam. Kami meminta bantuan kepada Bapak SBY untuk membantu para korban gempa bumi di Yogyakarta.
Demikian tadi cerita tentang gempa bumi di Yogyakarta.
Hormat Saya : Andri Nugrahini, TPA Nurul Iman Blali (Less) Channel: youtube

199,

01:18,

2007-03-06 19:53:00
Description: Mungkin sudah agak basi mengucapkan condolence thd korban gempa. Saya pun bingung mau menyampaikan kemana. Saya yakin bahwa tulisan ini tidak akan terbaca oleh mereka di sana. Sejak 27 Mei 2006 (More) Mungkin sudah agak basi mengucapkan condolence thd korban gempa. Saya pun bingung mau menyampaikan kemana. Saya yakin bahwa tulisan ini tidak akan terbaca oleh mereka di sana. Sejak 27 Mei 2006 kemarin memang aku menjadi lebih sentimentil thd kondisi hometown-ku Bantul. Ingatanku menelusur kesana kemari dan mencoba mencari sebanyak mungkin informasi ttg gempa Bantul. Meskipun karena gempa itu pula kota-ku tersebut menjadi headline di beberapa worldwide news. Bahkan aku jadi punya satellite image yang komplit ttg Bantul. Why so sentimentil diriku nowadays. Karena Bantul-lah yang membesarkan-ku. Ibuku dan Ayahku semuanya dari Bantul. Maka tidak berlebihan kalau saya katakan bahwa kerabatku disana ada dalam orde Ribuan. Belum lagi teman TK Bustanul atfal dengan semua civitas akademiknya, SD Bantul 1, SMP 1 Bantul, sebagian teman di SMA 1 Yogyakarta dan Teknik Elektro UGM. Teman Remaja Masjid, terutama dahulu ketika aku masih aktif di JAMASBA. Teman-teman Keluarga Mahasiswa Bantul, dan puluhan pengurus Takmir Masjid yang dalam waktu-waktu terakhir aku masih intensif untuk saling bertemu. Beberapa Tokoh Kepemudaan dan tentunya Para tetangga di Gose dan Babadan yang tak luput juga menjadi korban dari tragedi ini.
Saya bingung mau ngomong apa lagi dalam kondisi 150 Ribu rumah di Bantul roboh dan ratusan saudara-ku yang kukenal menjadi korbannya. Innalillahi wainnailaihi rajiun. Dahulu aku sangat senang menyampaikan sebuah atsar: "Ajaba lii amril muslim....". Sungguh mengherankan kondisi seorang muslim, dimana dalam kondisi apapun, pahala selalu dalam genggamannya. Apabila dia diberi nikmat dia bersyukur dan itu adalah pahala, ketika diberi musibah dia bersabar dan itu adalah pahala pula buat mereka. Tapi saat ini aku merasa tidak punya nyali untuk menyampaikan itu kepada saudara-2ku disana. Aku bukan korban gempa secara langsung. Beberapa kali aku bertanya kepada Isteriku, apakah kita termasuk orang yang beruntung, tidak ditimpakan gempa itu dihadapan kita? Aku senang dengan sikapnya, dia tidak pernah menjawab terhadap pertanyaan konyolku ini.
Apa yang ada di dalam database informasiku tentang korban gempa akan ku tulis disini. Om Harman (suami Bulik Sholihah) dan Fatwa (fafa) sepupuku, meninggal dengan kondisi rumah hancur. Sungguh sulit bagiku untuk mengucapkan sesuatu kepada Bulik-ku ini. Waris Santosa, kolega Teknik Fisika, juga meninggal, merupakan the only UGM's lecturer who pass away in this tragedy. Semua rumah disamping utara rumahku dikabarkan roboh. Rumah Mas Irwan, Mas Wiji, Pak Sarjiman, Lik Tumijo, Pakde Harto. Juga salah satu teman rondaku, Mas Parjono. Musholla didepan rumahku-pun, yang menyertai sebagian hari-hariku tamat juga riwayat-nya. Rumah-ku yang tampangnya pas-pasan dikabarkan selamat.masih layak huni, saya tidak tahu kondisinya. Saya enggak tahu mau ngomong apa lagi. Apabila bencana menjadikan manusia semakin dekat dengan Tuhannya, maka bencana adalah nikmat besar, bagi orang-orang yang mengetahui.
http://kholid74.multiply.com/journal/item/11/Untuk_Saudaraku_di_Bantul (Less) Channel: youtube

13,

06:33,

2007-02-02 12:13:41
Description: checking on the progress of Ena's house in Bantul after mom came home, and construction is under way again
Channel: youtube

299,

04:45,

2007-03-08 02:11:04
Description: Parangtritis, detik-detik menjelang gempa 27 Mei 2006. Musiknya diambil dari Sound Ending radio MQ FM, pada acara siraman rohani setiap pukul 05.00-06.00 pagi. Gempa 27 Mei 2006 terjadi setelah (More) Parangtritis, detik-detik menjelang gempa 27 Mei 2006. Musiknya diambil dari Sound Ending radio MQ FM, pada acara siraman rohani setiap pukul 05.00-06.00 pagi. Gempa 27 Mei 2006 terjadi setelah pengajian Aa Gym di MQ FM Selesai dan Musik dari Hadad Alwi ini dialunkan.
Pagi itu, di Parangtritis sedang direncanakan untuk diadakan acara pertunjukkan ketangkasan sepeda motor (motorcycle shows). Cuaca di lokasi Pantai Parangtritis cukup cerah pagi itu, penonton sudah banyak yg berdatangan. Hari itu, hari Sabtu dan merupakan waktu liburan sekolah, sehingga banyak yg ingin menyaksikan acara menarik ini. Begitu terjadi gempa, mereka langsung lari tunggang langgang menjauhi pantai.
Berdasarkan pemantauan dari empat stasiun seismograf di Gunung Merapi oleh Stasiun Geofisika Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) dan laporan dari Global Seismic Network milik Amerika Serikat, gempa tektonik ini tepat terjadi pada pukul 05.53.58, persisnya di koordinat 8,007 Lintang Selatan dan 110,286 Bujur Timur dengan kemiringan 87 dan pergeseran 3 , pada garis lurus pada kedalaman 33 KM di bawah permukaan tanah, yang berjarak kurang dari 35 km dari Yogyakarta persis di bibir pantai. Sedangkan menurut United States Geological Survey (USGS), lembaga survei yang memiliki peralatan serba canggih, menyatakan pusat gempa terjadi di daratan di kedalaman 35 km dan berkekuatan 6,2 Mw (moment magnitude).
Rambatan gempa berasal dari pergeseran patahan berupa gerakan berlawanan dari sekitar Pantai Depok, membujur ke arah timur laut melewati Gading Kauman, Tirtoharjo, Kaliwening, Ngambangan, Cangkiring, hingga Gondowulung di Plered, Bantul.
Gempa ini tergolong gempa bumi merusak dengan skala kerusakan 7 Mmi (modified mercally intensity). Kerusakan mutlak apabila skala mencapai angka absolut 12 Mmi. Skala Mmi dikembangkan oleh ahli seismologi Amerika Serikat, Harry Wood dan Frank Neumann. Orang baru mulai mengenal skala Richter yang dikembangkan oleh ilmuwan dari California Institute of Technology, Charles F Richter, pada tahun 1935. Dalam skala ini magnitude 5,3 SR masuk tingkatan gempa bumi yang moderat, sedangkan gempa besar tingkatannya mulai 6,3 SR ke atas.
Menurut analisis Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, gempa bumi di Bantul disebabkan reaktivasi sesar. Peristiwa alam ini merupakan pergeseran antara dua sesar atau patahan pada lempeng (plate) Eurasia. Pergeseran sesar aktif akibat desakan lempeng Indo-Australia terhadap Eurasia ini menimbulkan gelombang gempa mendatar.
Kabupaten Bantul merupakan pusat kerusakan karena dekat dengan sumber gempa bumi dan substan lapisan di bawah daratan Bantul merupakan lapisan aluvial pantai, endapan batu gamping, dan endapan letusan gunung api yang bersifat memperbesar efek guncangan gempa. Daya rusak gempa ini meluas karena garis reaktivasi sesar memanjang dari Bantul ke arah Klaten, bahkan gedorannya sampai ke Solo.
Kerusakan di tiap daerah berbeda, karena kondisi bangunan, perbedaan struktur tanah, dan letak bangunan terhadap jalur sesar. Kebanyakan bangunan yang remuk, rata dengan tanah, terjadi karena konstruksinya tidak tahan dengan gempa.
Gempa ini sempat teredam lapisan pasir yang tebal di sepanjang 'gumuk' (bukit pasir) Pantai Selatan (Parangtritis). Karena itu, kerusakan di daerah pantai lebih ringan dibandingkan dengan daerah Bantul tengah dan utara yang struktur tanahnya mengandung lempung.
Disamping bangunan tempat tinggal yang mengalami kerusakan, beberapa situs yang berada di wilayah DIY dan sekitarnya juga mengalami kerusakan.
Dari data historis kegempaan Pulau Jawa, Yogyakarta telah diguncang sedikitnya empat gempa sebelumnya yang berkisar 6 skala Richter, yaitu pada tahun 1867, 1937, 1943, dan 1981.
Dari isu yang beredar di masyarakat, gempa itu adalah akibat dari ledakan Bom Nuklir. Isu tersebut sebenarnya adalah kabar bohong belaka. Berikut ini adalah analisa seorang pakar nuklir (Link: http://rovicky.wordpress.com/2006/09/05/gempa-yogya-ledakan-nuklir-dan-tumbukan-meteor-sebuah-pengandaian/ ) yang mengatakan bahwa gempa Jogja mustahil akibat ledakan Bom Nuklir (Less) Channel: youtube

58,

02:47,

2007-03-09 23:57:50
Description: Pasca gempa Yogya 27 Mei 2006. Dusun Kepek, Jetis, Bantul. Hadirlah bukti nyata Indonesia, "Negeri Kampung Maling". Pencuri mengambil kesempatan di tengah duka gempa sekalipun.
Malam (More) Pasca gempa Yogya 27 Mei 2006. Dusun Kepek, Jetis, Bantul. Hadirlah bukti nyata Indonesia, "Negeri Kampung Maling". Pencuri mengambil kesempatan di tengah duka gempa sekalipun.
Malam hari, gelap-gulita. Tak ada listrik, hanya diterangi cahaya rembulan. Di tengah guyuran lebat hujan. Di tenda posko yang seadanya.
Meluncurlah pick up bak terbuka. Berkedok seperti para relawan membawa bantuan. Nyatanya, para relawan gadungan itu tega, teramat tega.
Mereka tanpa hati mencuri sembilan motor korban gempa yang sedang diparkir di samping posko bantuan.
"Hanya itu yang tersisa. Kami tak punya apa-apa".
"Rumah tiada, sanak keluarga menjadi korban. Sekarang kecurian".
"Teganya mereka ya Allah".
Di negeri kampung maling, gempa bukan hanya mengetuk para relawan, tetapi juga para manusia yang tak punya perasaan kemanusiaan. (Less) Channel: youtube

82,

05:00,

2007-03-08 01:53:36
Description: Sehari pasca bencana gempa, sepanjang jalan menuju ke Bantul dipadati oleh kendaraan yang berduyun-duyun menuju lokasi gempa. Kendaraan pembawa bantuan logistik korban gempa pun kewalahan untuk menuju (More) Sehari pasca bencana gempa, sepanjang jalan menuju ke Bantul dipadati oleh kendaraan yang berduyun-duyun menuju lokasi gempa. Kendaraan pembawa bantuan logistik korban gempa pun kewalahan untuk menuju lokasi gempa. Banyak kendaraan bernomor kendaraan dari luar kota Jogjakarta, antara lain Semarang, Surakarta (Solo), Madiun, Jakarta, Bengkulu dan beberapa kota lainnya. Hal dapat dipahami karena mereka ingin melihat keadaan sanak - saudaranya yang tertimpa bencana. Tetapi tidak sedikit pula orang yang datang dari luar Jogja hanya untuk melihat secara langsung apa yang terjadi. Mereka tentu bukan orang yang berada dalam tingkatan ekonomi rendah karena mereka datang dengan menggunakan kendaraan-kendaraan beroda empat. Mobil-mobil yang mereka gunakan juga bukan mobil biasa, termasuk mobil keluaran baru antara lain Honda Jazz, Kijang Inova, Toyota Avanza dan merk-merk mobil yang lain.
"Saya khusus datang dari kota Bandung untuk sekedar melihat secara langsung keadaan pasca gempa di daerah Bantul, tapi saya juga membawa sedikit bantuan untuk mereka kok," kata Asep, seorang turis dari Bandung.
Asep datang dalam rombongan lima mobil. Mereka datang dan memberikan bantuan ke salah satu posko yang terletak di Jl. Imogiri Barat. Kepuasan untuk melihat korban dan suasana pasca gempa ini membuat orang berfikir tidak rasional. Mereka tidak berpikir bahwa biaya yang mereka pergunakan untuk menuju lokasi bisa jadi sama besar dengan besarnya sumbangan yang mereka berikan.
Lalu lintas yang menjadi padat secara tiba-tiba ini juga dikarenakan mereka banyak berhenti di pinggiran ruas jalan hanya untuk memotret obyek gempa, gedung perkantoran dan kampus yang runtuh, dan rumah yang rata dengan tanah. Hal ini tentu menyusahkan mobil-mobil pembawa bantuan untuk masuk ke daerah lokasi bencana dan menghambat evakuasi korban dengan menggunakan ambulans. Hal yang sama juga diceritakan oleh seorang korban gempa yang berada di wilayah Bambanglipuro Bantul.
"Kami ini bukan tontonan mbak, tapi kok ada saja orang yang datang hanya untuk melihat-lihat, sudah gitu mereka foto-foto disini, apa kami tidak nelongso?" demikian dikatakan oleh Surati.
"Kalau yang kesini sambil bawa bantuan masih lumayan mbak, tapi kalau yang kesini cuma lewat dan melihat-lihat, kok seperti tidak punya hati ya," kata Marsini.
Dalam fenomena wisata bencana ini, sebenarnya bisa dikategorikan menjadi dua jenis wisatawan. Yang pertama wisatawan yang datang dan membantu korban ala kadarnya. Yang kedua wisatawan yang hanya datang untuk melihat-lihat dan memotret sana-sini. (Less) Channel: youtube

5,

00:14,

2008-04-18 17:56:20
Description: The kids of Bantul are dancing with an orange head to head. Despite the earthquake they experienced on May 27, 2006 causing many losses, they are still keeping their heads up for a bright future! (More) The kids of Bantul are dancing with an orange head to head. Despite the earthquake they experienced on May 27, 2006 causing many losses, they are still keeping their heads up for a bright future! What an amazing attitude! (Less) Channel: myspace

91,

05:00,

2008-04-21 18:54:15
Description: Sehari pasca bencana gempa, sepanjang jalan menuju ke Bantul dipadati oleh kendaraan yang berduyun-duyun menuju lokasi gempa. Kendaraan pembawa bantuan logistik korban gempa pun kewalahan untuk menuju (More) Sehari pasca bencana gempa, sepanjang jalan menuju ke Bantul dipadati oleh kendaraan yang berduyun-duyun menuju lokasi gempa. Kendaraan pembawa bantuan logistik korban gempa pun kewalahan untuk menuju lokasi gempa. Banyak kendaraan bernomor kendaraan dari luar kota Jogjakarta, antara lain Semarang, Surakarta (Solo), Madiun, Jakarta, Bengkulu dan beberapa kota lainnya. Hal dapat dipahami karena mereka ingin melihat keadaan sanak - saudaranya yang tertimpa bencana. Tetapi tidak sedikit pula orang yang datang dari luar Jogja hanya untuk melihat secara langsung apa yang terjadi. Mereka tentu bukan orang yang berada dalam tingkatan ekonomi rendah karena mereka datang dengan menggunakan kendaraan-kendaraan beroda empat. Mobil-mobil yang mereka gunakan juga bukan mobil biasa, termasuk mobil keluaran baru antara lain Honda Jazz, Kijang Inova, Toyota Avanza dan merk-merk mobil yang lain. "Saya khusus datang dari kota Bandung untuk sekedar melihat secara langsung keadaan pasca gempa di daerah Bantul, tapi saya juga membawa sedikit bantuan untuk mereka kok," kata Asep, seorang turis dari Bandung. Asep datang dalam rombongan lima mobil. Mereka datang dan memberikan bantuan ke salah satu posko yang terletak di Jl. Imogiri Barat. Kepuasan untuk melihat korban dan suasana pasca gempa ini membuat orang berfikir tidak rasional. Mereka tidak berpikir bahwa biaya yang mereka pergunakan untuk menuju lokasi bisa jadi sama besar dengan besarnya sumbangan yang mereka berikan. Lalu lintas yang menjadi padat secara tiba-tiba ini juga dikarenakan mereka banyak berhenti di pinggiran ruas jalan hanya untuk memotret obyek gempa, gedung perkantoran dan kampus yang runtuh, dan rumah yang rata dengan tanah. Hal ini tentu menyusahkan mobil-mobil pembawa bantuan untuk masuk ke daerah lokasi bencana dan menghambat evakuasi korban dengan menggunakan ambulans. Hal yang sama juga diceritakan oleh seorang korban gempa yang berada di wilayah Bambanglipuro Bantul. "Kami ini bukan tontonan mbak, tapi kok ada saja orang yang datang hanya untuk melihat-lihat, sudah gitu mereka foto-foto disini, apa kami tidak nelongso?" demikian dikatakan oleh Surati. "Kalau yang kesini sambil bawa bantuan masih lumayan mbak, tapi kalau yang kesini cuma lewat dan melihat-lihat, kok seperti tidak punya hati ya," kata Marsini. Dalam fenomena wisata bencana ini, sebenarnya bisa dikategorikan menjadi dua jenis wisatawan. Yang pertama wisatawan yang datang dan membantu korban ala kadarnya. Yang kedua wisatawan yang hanya datang untuk melihat-lihat dan memotret sana-sini. (Less) Channel: youtube

307,

02:07,

2008-04-22 09:55:14
Description: Kepada : Om Hari dan Om Kuncoro di Jepang Assalammu'alikum Wr.Wb Alhamdulillah, masih diberi karunia keselamatan dan kesehatan. Ini Faris dari Yogya ingin berbagi rasa dengan saudara2 yg ada di (More) Kepada : Om Hari dan Om Kuncoro di Jepang Assalammu'alikum Wr.Wb Alhamdulillah, masih diberi karunia keselamatan dan kesehatan. Ini Faris dari Yogya ingin berbagi rasa dengan saudara2 yg ada di Jepang. Gempa berkekuatan 5.9 SK menguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya pada 27 Mei 2006 pukul 05:54 WIB. Waktu itu kami sekeluarga sedang berada dirumah. Begitu terjadi gempa kami langsung berhamburan keluar rumah. Alhamdulillah kami semua selamat. Saat itu listrik & radio setempat langsung mati. Begitu gempa yg berlangsung kurang lebih 1 menit itu berakhir, kami masuk rumah dan mencari tahu apa yg sebenarnya terjadi dari radio yg hanya beberapa stasiun yg masih mengudara. Alhamdulillah rumah kami tidak ada kerusakan sedikitpun. Setelah itu kegiatan kami berjalan seperti biasa, karena kami pikir ini hanya gempa biasa. Saya pergi kesekolah sambil melihat-lihat kondisi Jogja. Hasan, Husain dan Ibu libur. Bapak, Hasan & Husain memastikan kondisi kost2an. Pada saat itulah tiba2 ber-bondong2 manusia berlarian mencari tempat yg tinggi. Saya sudah berada disekolah waktu itu. Kepanikan luar biasa terjadi diseluruh penjuru DIY. Saya mencoba menghubungi Bapak/ibu. Tapi saat itu semua jaringan telphon/HP tidak berfungsi! Saya tidak bisa pulang kerumah saat itu, karena arus lalulintas saat itu semua menuju keutara! Sementara Bapak, Hasan dan Husain yg sedang berada disekitar kost2an langsung menuju UMY yg merupakan gedung bertingkat 5. Tapi, sebelum sampai di UMY Bapak memutuskan untuk pulang, karena rumah kami termasuk dataran yg lebih tinggi dari pada UMY. Ibu langsung keluar rumah dan bergerombol bersama tetangga mendengarkan siaran radio. Kepanikan itu mengakibatkan warga Jogja berhamburan, berlarian, menangis, histeri dan kehilangan akal sehat. Pom bensin setempat penuh! Arus kepanikan masa banyak yg berlarian kearah utara (Kaliurang, Magelang dan sekitarnya). Beberapa saat setelah itu ada beberapa pihak terkait yg mencoba menenangkan masa dengan mengatakan bahwa itu semua hanya isu ! Disekolahku beberapa siswa mencoba mencari kebenaran itu dengan mendengarkan siaran radio. Akhirnya saya dan teman2 disekolah dapat memastikan bahwa itu hanya isu. Tapi kami tertahan disekolah. Setelah itu saya berhasil pulang. Saat itu listrik dan PAM masih mati. Menjelang malam keadaan makin mencekam Karena masih sering terjadi gempa2 susulan yg kwalitasnya tidak separah gempa utama. Malam harinya listrik belum menyala. Kami masih bisa makan dengan sisa logistik yg ada. Tapi keadaan saat itu masih berstatus waspada. Untuk mengantisipasi gempa susulan, kami tidur diteras depan. Semua HP dalam keadaan LowBatt. HP sementara hanya bisa untuk menerima SMS. Malam itu kami tidur dengan bergantian, agar saat gempa susulan terjadi, kami langsung siap! Tidak kami bayangkan sebelumnya, ternyata gempa itu meluluhlantakkan daerah Bantul Selatan, Imogiri, Jetis, Kasongan dan daerah lain yg termasuk daerah lintasan gempa terhebat. Listrik mulai menyala hari Senin siang (29 Mei 2006). Itupun tidak menyeluruh. Berita diradio & TV sangat heboh dalam meliput bencana ini. Bantuan dari berbagai kalangan mulai berdatangan. Tadi malam, didaerah rumah kami, tiba2 listrik mati. Kentongan dibunyikan, pemuda berjaga sampai malam. Karena beberapa hari terakhir daerah2 lintasan gempa yg belum sepenuhnya terjamah bantuan dan listrik masih mati, banyak terjadi pencurian, penodongan & penjarahan. Beberapa daerah bahkan dijaga oleh beberapa personel TNI dan Brimob. Gempa itu menyisakan banyak sekali korban. Teman Bapak ada yg rumahnya roboh total. Beberapa teman saya & Hasan rumahnya retak, genteng hancur. Bahkan ada teman saya yg rumahnya hampir roboh. Sekolah saya tidak begitu banyak kerusakan yg berarti. Sekolah Hasan, bagian atap masjidnya rubuh. Sekolah sementara diliburkan 1 minggu. Kemarin saya & ibu mengunjungi murid ibu didaerah Imogiri yg kerusakannya hampir menyeluruh. Murid itu bernama Wiyono. Murid yatim tempat ibu mengajar. Saat gempa dia sedang ber-siap2 kesekolah. Dia tinggal bersama neneknya, karena dia sudah tidak punya siapa2 lagi. Bahkan, kata ibu, waktu mendaftar sekolah, dia hanya bemodalkan tekad untuk belajar. Biaya sekolahnya sampai saat ini hanya mengandalkan beasiswa yg dibagikan Pemerintah. Dia merupakan siswa yg memiliki tekad dan semangat dalam menuntut ilmu. Rumahnya berjarak 20 Km dari sekolah. Dan jarak itu dia tempuh dengan menggunakan sepeda setiap harinya. Namun sekarang sepeda tempurnya itu sudah tertimbun rumahnya yg ikut runtuh akibat gempa. Saat berkunjung dia tidak terlihat kehilangan semangat dalam menuntut ilmu. Sementara hanya itu dulu yg bisa saya ceritakan. Mungkin untuk sementara dalam ber-kirim2 E-mail agak tersendat karena kondisi sekarang tidak menentu. Sekian dulu, salam buat keluarga di Jepang. Arigatogosaimasu! Wassalammu'alaikum Wr.Wb Yogyakarta, 31 Mei 2006 (Less) Channel: youtube

191,

04:04,

2008-04-22 11:51:44
Description: Akibat gempa berkekuatan 5,9 Skala Richter (SR) yang terjadi Sabtu (27/5) pukul 05.54, sampai saat itu (Minggu, 28 Mei 2006) sedikitnya 3.470 orang tewas. Sejumlah 2.900 korban berasal dari Daerah (More) Akibat gempa berkekuatan 5,9 Skala Richter (SR) yang terjadi Sabtu (27/5) pukul 05.54, sampai saat itu (Minggu, 28 Mei 2006) sedikitnya 3.470 orang tewas. Sejumlah 2.900 korban berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan 570 orang dari Kabupaten Klaten. Getaran gempa itu juga terasa sampai Bandung dan Surabaya. Gempa itu berpusat sekitar 37 kilometer dari Kota Yogyakarta. Pusat gempa (episentrum) terletak di 110,33 derajat bujur timur (BT) dan 8,26 derajat lintang selatan (LS) pada kedalaman 33 kilometer di bawah permukaan laut. Gempa itu juga menyebabkan ribuan rumah dan bangunan rata dengan tanah. Jaringan listrik dan telekomunikasi juga terganggu. Semalam, suasana di daerah bencana terlihat mencekam akibat tidak adanya penerangan listrik. Apalagi sejak pukul 21.30, Klaten dan sekitarnya diguyur hujan lebat. Ketika terjadi hujan proses evakuasi korban menuju ke sejumlah rumah sakit ke luar Klaten masih berjalan. Sampai pukul 24.00 suara sirine ambulans masih terdengar di jalan raya Yogya-Solo. Selain menggunakan ambulans, evakuasi juga menggunakan mobil bak terbuka tanpa penutup sama sekali. Pemandangan itu mengundang trenyuh warga yang melihatnya. Semalam hampir semua warga tidak berani masuk rumah karena khawatir terjadi gempa susulan. Sejak pagi beredar isu akan terjadi gempa susulan dengan kekuatan tiga kali lipat dari yang terjadi pagi hari. Akibatnya warga tidur di halaman rumah, tepi jalan, dan bahkan ada juga yang di tengah persawahan. Mereka hanya menggunakan penerangan dari petromaks, lampu darurat, lampu minyak, atau lilin. Umumnya mereka tidur bergerombol dengan sanak kerabat atau tetangga. Begitu hujan, sebagian tetap bertahan di tenda-tenda seadanya. Sebagian lainnya sudah ada yang berani bernaung di teras atau masuk rumah yang relatif masih utuh. Ada juga yang mengungsi ke rumah saudara di luar Klaten. Sejumlah rumah sakit di Yogyakarta dan Klaten tidak mampu menampung pasien korban gempa. Rumah sakit besar di Yogyakarta seperti RS Sardjito, RS Bethesda, RS PKU Muhammadiyah, dan RS Panti Rapih dipenuhi pasien yang menderita luka. Demikian pula di RS Bersalin Padmasuri dan RSU Bantul. Semua pasien dirawat di halaman parkir dengan beralaskan tikar maupun hanya tiduran di rerumputan dekat pagar. Bahkan, karena sudah tidak mampu lagi menampung sebagian dilarikan ke RSU Tidar Magelang. Keadaan serupa juga terjadi di RSUD dr Soeradji Tirtonegoro, RS Cakra Husada, RS Islam, dan Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) RM Soedjarwadi Klaten kebanjiran pasien. Di RSJD RM Soedjarwadi, tak kurang dari 470 korban gempa dirawat. Sejumlah pasien ditidurkan di taman RS milik Pemprov Jateng itu, sebagian lainnya di halaman dan lorong-lorong rumah sakit. Dari jumlah itu 34 di antaranya dibawa dalam keadaan meninggal dunia, sebagian besar warga Kecamatan Wedi dan Gantiwarno. Sementara ratusan pasien lain dirujuk ke RS Islam dan RSI Aisyah (Klaten) serta RS Ortopedi dan RS PKU Muhammadiyah (Surakarta). Instalasi Gawat Darurat penuh sehingga teras dan halaman dijadikan tempat penampungan pasien. Suasana pusat Kota Yogyakarta terlihat sepi. Kawasan Malioboro yang biasanya ramai pada saban malam Minggu, semalam terlihat lengang. Sepanjang Malioboro dan parkiran Abu Bakar Ali yang biasanya penuh kendaraan, hanya ada satu dua mobil. Di jalan hanya satu-dua mobil yang lewat dalam semenit. Sementara itu tidak ada satu pun pedagang membuka dasaran. Pengunjung juga tidak ada yang berlalu lalang di pusat keramaian itu. (Less) Channel: youtube
Recent searches
Recently watched videos